Get to Knows:
Get to Knows:

Jarak Menipis, Demokrasi Diuji

Hasil Pilpres pada 9 Juli 2014 sulit diprediksi karena selisih dukungan antara keduanya kurang besar, dan pemilih yang belum menentukan pilihan masih lebih besar dari selisih tersebut.


Demikian hasil survei nasional terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), yang dilakukan pada 30 Juni-3 Juli 2014.


Jokowi-JK memang unggul 2.7% atas Prabowo Hatta pada saat survei dilakukan, tapi yang belum menentukan pilihan lebih besar (7.5%). Pemilih juga cenderung berubah tiap hari, dan ini membuat semakin sulit memperkirakan hasil akhir dari pertarungan ini.


Sisa waktu pada hari-hari setelah survei hingga tanggal 9 Juli masih bisa membuat pemilih berubah, apalagi di antara yang telah menentukan pilihan itu masih ada sekitar 14% yang merasa belum mantap dengan pilihannya ketika survei dilakukan.


Namun demikian sulit memprediksi siapa yang akan terpilih menjadi presiden pada tanggal 9 Juli 2014 nanti, sebab selisih tersebut lebih kecil dari jumlah yang menyatakan tidak tahu atau belum menentukan pilihan atau rahasia, yakni 7.5%.


Bila pemilih yang 7.5% tersebut terdistribusi secara proporsional pada kedua pasangan, atau cenderung kepasangan Joko Widodo – M. Jusuf Kalla maka pasangan ini yang akan terpilih. Sebaliknya bila suara yang belum memutuskan itu seluruhnya atau hampir seluruhnya ke pasangan Prabowo Subianto –Hatta Rajasa, maka pasangan ini yang akan terpilih.


Dengan perbedaan yang ketat tersebut, sulit diperkirakan siapa yang akan menang dalam Pilpres kali ini. Kemenangan masih ditentukan kegiatan kedua pasangan sejak tanggal 4-9 Juli.


Bila salah satu pasangan lebih unggul dalam kegiatan tersebut maka peta dukungan dapat berubah apalagi di antara yang telah menentukan pilihan itu sekitar 14% menyatakan bisa berubah. Jumlah ini seimbang baik pada pemilih Prabowo Subianto-Hatta Rajasa maupun Joko Widodo– M. Jusuf Kalla.


Keunggulan tersebut termasuk dalam kegiatan ilegal atau curang (bagi-bagi uang, kampanye di hari-hari tenang, intimidasi, dll.) Karena selisihnya sangat kecil, hampir dalam margin of error, potensi melakukan kecurangan itu besar.


Di sini seluruh komponen bangsa diuji seberapa besar kesungguhan untuk menjaga agar pilpres ini jujur, adil, langsung, bebas, dan rahasia (Jurdil), terutama KPU, Bawaslu, dan aparatur negara lainnya.


Bila kita semua lulus dari ujian ini maka demokrasi Indonesia akan semakin kuat, dan bila sebaliknya maka akan terpuruk. Skenario yang paling buruk adalah chaos. Maka bukan hanya demokrasi yang lumpuh, tapi negara-bangsa ini juga bisa terancam.


Survei ini dilakukan atas populasi pemilih nasional, yakni seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dan tinggal di Indonesia. Dari populasi itu dipilih secara random (multistage random sampling) 2350 responden.


Respond rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 1997 atau 85%. Sebanyak 1997 responden ini yang dianalisis. Margin of error rata-rata dari survei dengan ukuran sampel tersebut sebesar +/- 2.2% pada tingkat kepercayaan 95% (dengan asumsi simple random sampling). Wawancara dilakukan lewat tatap muka.


Pertanyaan utama dalam survei ini adalah pasangan calon presiden-wakil presiden mana yang pemilih akan pilih bila pemilihan dilakukan sekarang (saat wawancara dilakukan).


Terhadap pertanyaan tersebut 44.9% menyatakan memilih pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa, dan 47.6% menyatakan memilih pasangan Joko Widodo – M. Jusuf Kalla. Sisanya, 7.5%, menyatakan tidak atau belum tahu, rahasia, atau tidak mau menjawab.


Dengan kata lain selisih dukungan pada kedua pasangan tersebut sebesar 2.7% untuk pasangan Joko Widodo – M. Jusuf Kalla. Selisih ini signifikan pada saat wawancara dilakukan sebab sedikit lebih besar dari margin of error rata-rata.


Hasil survei selengkapnya dapat diklik di sini.

Komentar